Jakarta, CNN Indonesia —
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) MRizal Taufikurahman menilai pemerintah perlu segera mengaktifkan kembali insentif Mobil Listrik (electric vehicle/EV) sebagai langkah Sebagai meredam risiko fiskal akibat lonjakan harga Energi dunia.
Rizal Berkata tanpa stimulus lanjutan, Indonesia Berpeluang kehilangan momentum Untuk mempercepat adopsi Mobil Listrik, terutama Ke segmen kelas menengah.
“Risiko perlambatan ini cukup nyata, khususnya Setelahnya insentif fiskal berakhir Ke 2025 yang menyebabkan harga Mobil Listrik menjadi lebih mahal dan daya beli Komunitas menyempit,” ujar dia Untuk keterangannya Ke Jakarta, mengutip Di, Minggu (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizal menegaskan Ketahanan insentif Sebagai Mobil Listrik Berencana sangat menentukan Prestasi transisi energi Ke sektor transportasi, sekaligus menjaga stabilitas fiskal Ke Di ketidakpastian Internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data Menunjukkan sepanjang Januari hingga November 2025, penjualan Mobil Listrik sempat mencapai Di 82 ribu unit, atau setara 11-12 persen Di total pasar Produsen Kendaraan nasional, didorong Di berbagai insentif Di pemerintah.
Tetapi, Ke Di yang sama, lanjutnya, ketegangan Hubungan Dunia Di Amerika Serikat, Israel, dan Iran Mendorong harga Energi dunia tetap tinggi dan Justru bertahan Ke atas 100 Kurs Matauang Amerika AS per barel. Situasi ini Berpeluang Meningkatkan beban Dukungan Pemerintah energi Untuk APBN.
Rizal menjelaskan alokasi Dukungan Pemerintah energi Ke 2026 diperkirakan mencapai Di Rp210 triliun. Biaya ini sangat sensitif Pada pergerakan harga Energi, Ke mana setiap kenaikan 1 Kurs Matauang Amerika AS per barel dapat menambah beban fiskal sebesar Rp6-7 triliun. Artinya, jika harga Energi naik 10 Kurs Matauang Amerika AS per barel, tambahan beban Dukungan Pemerintah bisa mencapai Rp60-70 triliun.
Lantaran itu, tambahnya, insentif Mobil Listrik tetap dibutuhkan, tidak hanya Sebagai menjaga daya beli Komunitas, tetapi juga sebagai strategi jangka menengah Untuk Mengurangi tekanan fiskal dan ketergantungan Ke Pembelian Barang Di Luar Negeri BBM.
“Untuk simulasi transisi energi, penggantian 1 juta kendaraan konvensional Di Mobil Listrik Berpeluang menghemat Di 13 juta barel Energi per tahun. Ini merupakan penghematan yang signifikan dan berdampak langsung Pada Kesejajaran energi nasional,” ucapnya.
(Regu/mik)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnnindonesia News: Insentif Kendaraan Pribadi Elektrifikasi Sebagai Redam Lonjakan Harga Energi











