Gaya Latihan Berlarilah kini Di menjamur Di Indonesia. Sayangnya, tidak sedikit orang yang terjebak Trend Populer FOMO (Fear of Missing Out) atau sekadar ingin pamer Penampilan Di Langkah Strava. Merespons Trend Populer ini, presenter kondang Daniel Mananta membagikan pandangan mendalam soal esensi Latihan yang sesungguhnya.
Memasuki usia 45 tahun, Daniel membuktikan bahwa konsistensi adalah Kunci. Ia telah menekuni Berlarilah maraton Sebelum tahun 2016. Pada 10 tahun terakhir, ia secara konsisten menjaga rutinitasnya hingga bersiap melakoni maratonnya yang Di-14 Di Cape Town, Afrika Selatan.
Untuk Daniel, efek terbesar Untuk konsistensi Berlarilah Pada satu dekade ini bukan hanya soal ketahanan fisik, melainkan transformasi mindset dan mental.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Setiap hari gue harus mengalahkan diri gue sendiri berkali-kali. Pertama pas bangun tidur; mau lanjut tidur apa Berlarilah? Itu berat banget. Kedua, pas lagi Berlarilah dan kecapean; otak gue bilang lo harus Berlarilah terus, selesaikan ini,” ungkap Daniel.
Di Di banyak orang membayangkan masa tua yang santai dan beristirahat total, Daniel Mananta justru Memperoleh visi yang jauh berbeda. Ia memasang target tetap berlari Di jalur maraton sejauh 42 kilometer Justru ketika usianya sudah menginjak kepala tujuh.
“Gue pengen nanti ketika gue umur 70, atau ketika gue umur 80, masih bisa Berlarilah. Gue seperti itu soalnya. Target gue ketika gue umur 70, gue masih ikutan marathon,” ujar Daniel.
Berlarilah Sebagai Bentuk Mengosongkan Pikiran
Berbeda Didalam kebanyakan pelari yang mengandalkan Bunyi bersemangat, Daniel justru memilih keheningan Di menempuh puluhan kilometer. Untuk dia, fase memikirkan rasa lelah atau Konsumsi sudah lewat. Berlarilah kini telah bertransformasi menjadi ruang spiritual tersendiri.
“Berlarilah itu Didalam Sebab Itu Mengosongkan Pikiran buat gue. Itu adalah waktu ketika gue ngobrol sama Tuhan. Gue gak dengerin Bunyi, kadang-kadang Justru sampai dengerin khotbah, atau Justru gak dengerin apa-apa,” tuturnya.
Melihat banyaknya pelari pemula yang langsung memaksakan diri Untuk gengsi sosial hingga berisiko Kerusakan, Daniel Menyediakan pesan emosional yang kuat. Ia meminta Komunitas Untuk meluruskan kembali niat awal Latihan.
“Jangan Berlarilah Lantaran FOMO, tapi Berlarilah Lantaran mau sehat. Jangan mau Berlarilah Lantaran pengen terlihat cepat atau pengen ngebuktiin sesuatu Di Strava. Latihan Lantaran lu pengen sehat,” tegas Daniel.
Halaman 2 Untuk 2
(kna/kna)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Masih Segar Di Usia 45 Tahun, Daniel Mananta Mau Maraton Sampai Umur 70











