loading…
Listya Endang Artiani, Ekonom Universitas Islam Indonesia. Foto/Dok. SindoNews
Ekonom Universitas Islam Indonesia
ADA paradoks Di narasi Penanaman Modal Di Negeri nasional, Lebihterus gencar kemudahan Melakukanlangkah-Langkah dipromosikan Berencana Lebihterus besar kemungkinan kita mengabaikan variabel paling menentukan siapa yang memegang kendali. Reformasi administratif memang berjalan, perizinan Diprioritaskan, dan angka Penanaman Modal Di Negeri Menimbulkan Kekhawatiran.
Akan Tetapi Ke balik itu, terdapat realitas yang lebih sunyi, bahwa tidak semua pelaku berada Di posisi yang setara. Sebagian bergerak tanpa hambatan, Sambil yang lain tersendat Dari awal, bukan Lantaran kekurangan kapasitas, tetapi Lantaran keterbatasan akses.
Kejadian Luar Biasa ini Menunjukkan bahwa arus Penanaman Modal Di Negeri tidak sepenuhnya mencerminkan daya saing, melainkan juga dipengaruhi Bersama struktur kekuasaan. Di perspektif ekonomi kelembagaan, sebagaimana ditegaskan Bersama Douglass North, Mutu institusi menentukan arah pembangunan.
Ketika distribusi kekuasaan timpang, aturan main kehilangan netralitas dan berubah menjadi instrumen seleksi. Dampaknya, Penanaman Modal Di Negeri tidak lagi mengikuti logika efisiensi, melainkan logika akses.
Ketimpangan ini bekerja Melewati berbagai mekanisme seperti asimetri informasi sebagaimana dijelaskan Bersama Joseph Stiglitz, dapat memberi Kelebihan Untuk pelaku tertentu yang Memperoleh akses lebih awal Di Potensi dan Keputusan. Di Pada Yang Sama, principal-agent problem membuka ruang Untuk penyimpangan kepentingan ketika pengawasan lemah. Kombinasi keduanya menciptakan pasar yang tampak Tantangan, tetapi sesungguhnya bias.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Ancaman Tersembunyi Untuk Iklim Penanaman Modal Di Negeri Nasional











