Menkes BGS Bukan Praktisi Medis, Bisakah ‘Nyalon’ Karena Itu Dirjen WHO? Ini Kata Pakar


Jakarta

Latar Dibelakang Pembantu Kepala Negara Kesejaganan RI Budi Gunadi Sadikin (BGS) yang merupakan lulusan Fisika Nuklir dan lama berkarier Hingga dunia perbankan kembali mencuat. Kali ini, status non-Praktisi Medis tersebut diprediksi menjadi bahan perdebatan Untuk pencalonannya sebagai Direktur Jenderal Organisasi Kesejaganan Dunia (WHO) 2027-2032.

Mantan panel ahli WHO, Dicky Budiman, menyebutkan bahwa Permasalahan latar Dibelakang medis Berencana selalu menjadi sorotan utama Hingga komunitas Kesejaganan Dunia. WHO Di dasarnya merupakan lembaga yang menetapkan norma teknis dan ilmiah internasional.

“WHO itu menetapkan norma teknis ilmiah, seperti pedoman klinis, respon wabah, dan Perlindungan Terapi. Ini butuh kredibilitas ilmu Kesejaganan yang tinggi agar bisa diterima Dari 194 Bangsa anggota dan komunitas ilmiah dunia,” tutur Dicky kepada detikcom, Sabtu (29/8/2026).


Dicky memaparkan, posisi Dirjen WHO secara historis hampir selalu diisi Dari figur berlatar Dibelakang Praktisi Medis atau ahli Kesejaganan Komunitas. Sosok Dirjen WHO Di ini, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga Memperoleh rekam jejak kuat Hingga bidang Kesejaganan publik.

Meski begitu, Dicky menegaskan bahwa sosok Didalam latar Dibelakang non-Praktisi Medis bukan berarti tidak bisa memimpin organisasi Kesejaganan Dunia. Menurutnya, Di praktik operasionalnya, jabatan Dirjen WHO lebih banyak menyangkut fungsi manajerial, Politik Luar Negeri, dan politik.

Dirjen WHO bertanggung jawab mengelola Dana birokrasi yang sangat besar Didalam membawahi lebih Untuk 8.000 staf Hingga seluruh dunia. Di Itu, tugas utamanya adalah melakukan Perundingan tingkat tinggi antarnegara anggota, bukan melakukan praktik klinis.

“Banyak organisasi Kesejaganan Dunia yang tetap efektif dipimpin Dari figur non-medis. Kuncinya ada Di keberadaan Regu teknis yang sangat kuat Hingga bawah pimpinan tersebut,” jelas Dicky.

Untuk menutup celah legitimasi teknis, Dicky menyarankan agar BGS nantinya ditopang Dari Regu pakar yang solid, seperti penguatan peran Chief Scientist Officer (CSO). Hal ini penting Untuk menjaga wibawa ilmiah WHO Hingga mata dunia.

Dicky menilai latar Dibelakang non-medis BGS sebenarnya tetap relevan jika diletakkan Di fungsi yang tepat. Sofa puncak WHO membutuhkan arah Aturan strategis dan Politik Luar Negeri, sedangkan urusan teknis medis diserahkan kepada jajaran ahli.

“Karena Itu kalau ditanya relevan atau tidak, keduanya relevan tapi Untuk fungsi berbeda. Legitimasi teknis itu butuh Regu atau CSO yang kuat, Sambil Itu Dirjen fokus Di arah Aturan dan Politik Luar Negeri Dunia,” tutupnya.

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Menkes BGS Bukan Praktisi Medis, Bisakah ‘Nyalon’ Karena Itu Dirjen WHO? Ini Kata Pakar

slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin