Vientiane –
Tragedi turis tewas akibat keracunan metanol yang terjadi 1,5 tahun lalu diungkap Dari Pemerintah Laos. Sayangnya, tidak ada bukti kuat Untuk Menginformasikan Perkara Pidana Hukum ini.
Pemerintah Laos Berkata belum bisa menentukan pihak yang bertanggung jawab maupun penyebab pasti atas kematian enam wisatawan akibat keracunan metanol.
Tragedi ini merenggut nyawa satu warga Inggris, dua warga Australia, dua warga Denmark, dan satu warga Amerika Serikat Ke November 2024, Hingga mana mereka menghabiskan malam Hingga Vang Vieng, seperti dikutip Bersama BBC Ke Senin (20/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Keselamatan Publik Laos berdalih tidak Memperoleh bukti yang cukup Untuk memastikan apakah kematian tersebut “disebabkan Dari tindakan individu atau penyebab tertentu, Sebab tidak dilakukan otopsi Ke jenazah”.
Awal pekan ini terungkap bahwa pemilik pabrik penyulingan hanya dijerat pasal penjualan produk Minuman berbahaya dan pengoperasian Usaha ilegal, bukan pasal Membunuh Orang Lain atau kelalaian yang menyebabkan kematian.
Ancaman hukuman Untuk dakwaan tersebut terbilang sangat ringan, yaitu maksimal satu tahun penjara dan denda sebesar USD 1.100 (Di Rp 19,77 juta) Untuk para pelaku.
Merespons keputusan itu, pemerintah Australia mengaku merasa “sangat frustrasi dan sangat kecewa” Sebab dakwaan yang lebih berat tidak dijatuhkan atas tewasnya enam turis tersebut.
Kementerian Luar Negeri Australia Justru langsung memanggil Duta Besar Laos Hingga Canberra Untuk menyampaikan protestasi keras.
Melewati pernyataan resminya Ke hari Sabtu, Kementerian Keselamatan Publik Laos menegaskan kembali bahwa otoritas setempat tidak diizinkan melakukan otopsi Ke tahun 2024. Alhasil, mereka “kekurangan bukti forensik yang diperlukan Untuk menentukan penyebab kematian”.
Kendati demikian, pihak kementerian mengonfirmasi bahwa Skuat penyidik menemukan kadar metanol yang berlebihan Ke produk vodka buatan pabrik penyulingan yang bermasalah tersebut.
Para korban tewas teridentifikasi sebagai Simone White (28 tahun) asal Inggris, Bianca Jones dan Holly Morton-Bowles (19 tahun) asal Australia, Anne-Sofie Orkild Coyman (20 tahun) dan Freja Vennervald Sorensen (21 tahun) asal Denmark, serta James Louis Hutson (57 tahun) asal Amerika Serikat.
Sejumlah media Australia melaporkan bahwa Kepolisian Federal Australia sebenarnya telah menawarkan Dukungan investigasi kepada Laos kala itu, Akan Tetapi tawaran tersebut ditolak. Padahal, batas waktu ideal Untuk prosedur otopsi hanyalah dua hingga tiga hari pascakematian.
Jenazah kedua korban asal Australia Terbaru berhasil dipulangkan Hingga Bangsa asalnya dua minggu Sesudah insiden tragis tersebut terjadi.
Kuat dugaan para korban mengonsumsi minuman keras gratis yang telah dioplos Bersama metanol. Zat beracun ini umumnya digunakan sebagai pengencer Warna, Akan Tetapi sering dicampur secara ilegal Hingga Di minuman beralkohol Untuk menekan biaya produksi.
Metanol sendiri berupa cairan bening tanpa warna yang rasanya sangat mirip Bersama alkohol biasa. Mengonsumsinya Di jumlah kecil saja sudah cukup Untuk memicu kematian fatal.
Zat berbahaya ini terserap sangat cepat Dari usus hanya Di hitungan menit Sebelumnya menyebar Hingga aliran darah. Ketika tubuh Melakukanupaya memproses atau memetabolisme metanol Hingga organ hati, enzim tubuh Berencana mengubah zat tersebut menjadi formaldehida dan asam format yang sangat beracun.
Mayoritas korban diketahui menginap Hingga Nana Backpacker Hostel. Pihak pengelola mulai curiga Sesudah para tamu tersebut tidak kunjung check-out akibat jatuh sakit parah Ke 13 November.
Ke awal tahun ini, sebanyak 10 orang yang terafiliasi Bersama hostel tersebut resmi dijatuhi hukuman atas tuduhan penghancuran Produk bukti. Mereka dijatuhi hukuman percobaan serta denda masing-masing sebesar US$185 (Di Rp3,32 juta).
Kota Vang Vieng yang terletak Hingga tepi sungai Laos Ditengah ini memang dikenal luas sebagai salah satu destinasi Unjuk para backpacker yang menjelajahi kawasan Asia Tenggara.
Melihat maraknya Perkara Pidana Hukum serupa, pemerintah Inggris resmi Memperkenalkan Sosialisasi Politik Pelatihan minggu lalu guna memperingatkan para wisatawan tentang bahaya keracunan metanol.
(bnl/wsw)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Masih Ingat Perkara Pidana Hukum Turis Keracunan Metanol Hingga Laos? Ini Update Terbarunya











