loading…
Tekanan yang terus terjadi Ke pasar keuangan Indonesia tercermin pelemahan Kurs Mata Uang Idr hingga IHSG. FOTO/dok.SindoNews
“Yang Untuk dikoreksi pasar bukan hanya saham dan Idr. Yang Untuk dinilai ulang adalah risiko Indonesia itu sendiri. Lantaran itu, gejolak yang terjadi Di ini perlu dibaca lebih Untuk daripada sekadar volatilitas pasar biasa,” ujar Analis Ekonomi Politik Menteng Kleb sekaligus Co-Founder FINE Institute Kusfiardi Untuk pernyataannya dikutip Di Minggu (7/6/2026).
Baca Juga: Heboh ‘Sell Indonesia’ Di Idr-IHSG Terpuruk, Muncul Sosok Lama Bikin Kepercayaan Runtuh
Menurut Kusfiardi, tekanan yang terjadi tidak bisa dijelaskan hanya sebagai faktor eksternal seperti penguatan Kurs Matauang Amerika Amerika Serikat (AS), konflik Politik Global, maupun tingginya suku bunga Dunia. Faktor-faktor tersebut memang menjadi pemicu, Akan Tetapi kedalaman koreksi yang terjadi Menunjukkan adanya persoalan domestik yang lebih mendasar terutama Yang Berhubungan Bersama struktur pasar yang masih dangkal dan tingginya ketergantungan Pada arus modal Asing.
Ia menilai peristiwa rebalancing indeks MSCI Di Mei 2026 menjadi salah satu indikator kuat mengenai besarnya pengaruh institusi keuangan Dunia Pada pasar Indonesia. Keluarnya sejumlah saham besar Untuk indeks tersebut memicu arus keluar dana Asing dan mempercepat tekanan Pada pasar saham maupun Kurs Mata Uang Idr.
“MSCI memang bukan regulator Indonesia. Akan Tetapi keputusan lembaga indeks Dunia mampu memengaruhi likuiditas, biaya modal, dan persepsi risiko pasar Indonesia secara langsung. Ini Menunjukkan bahwa pasar kita masih sangat sensitif Pada keputusan Aktor Atau Aktris keuangan Dunia,” ujarnya.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: IHSG dan Idr Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia











