Sayuran hidroponik kerap dipilih sebagai alternatif Ketahanan Pangan segar Untuk Kelompok perkotaan. Metode budidaya tanpa tanah ini juga sering dikaitkan Didalam penggunaan pestisida yang lebih sedikit. Tetapi, apakah sayuran hidroponik otomatis lebih sehat dibandingkan sayuran yang ditanam secara konvensional?
Pertanyaan ini menjadi salah satu topik obrolan Di detikcom Melakukan Kunjungan Hingga Ladang Farm Ilmu Pengetahuan Hingga Cilandak, Jakarta Selatan. Kebun yang menerapkan sistem vertical farming tersebut Memiliki struktur setinggi Di 18 meter atau setara bangunan enam lantai.
General Manager Ladang Farm Ilmu Pengetahuan, Nova Riswanto, mengatakan pihaknya tidak menggunakan pestisida Untuk proses budidaya sayuran. Meski demikian, ia menegaskan produk Ladang Farm belum dapat disebut organik Sebab masih menggunakan pupuk kimia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau dikatakan lebih sehat, kalau Hingga Ladang Farm ini tidak menggunakan pestisida,” ujar Nova Di berbincang bersama detikcom.
Ia menjelaskan, pengendalian hama dilakukan Lewat pemantauan tanaman setiap hari. Apabila ditemukan daun yang terserang hama, Dibagian tersebut langsung dipetik dan dibuang.
Apakah hidroponik otomatis lebih sehat?
Hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuh. Tanaman memperoleh air dan unsur hara Lewat larutan Konsumsi Bergizi yang disiapkan Untuk mendukung pertumbuhannya.
Metode ini memungkinkan tanaman dibudidayakan Hingga lahan terbatas, termasuk Didalam susunan bertingkat. Tetapi, cara tanam tersebut tidak serta-merta menjamin sayuran Memiliki kandungan gizi lebih tinggi atau bebas Untuk risiko Keselamatan Ketahanan Pangan.
Publikasi Untuk Virginia Cooperative Extension yang disusun bersama para pakar Hingga Virginia Tech dan Virginia State University menjelaskan bahwa sayuran yang ditanam Hingga Rumah kaca maupun sistem hidroponik tidak otomatis lebih aman dibandingkan sayuran Untuk lahan terbuka.
Untuk publikasi berjudul Hydroponic Production of Edible Crops: Food Safety Considerations, para penulis menjelaskan bahwa risiko kontaminasi tetap dapat muncul Pada proses produksi, panen, hingga penanganan Setelahnya panen.
Standar air, kebersihan peralatan, Situasi fasilitas, serta praktik pekerja menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan. Ke sistem hidroponik yang menggunakan kembali air, misalnya, air yang terkontaminasi dapat menjadi jalur penyebaran mikroorganisme Hingga Untuk sistem.
Artinya, metode hidroponik perlu disertai praktik budidaya dan penanganan Ketahanan Pangan yang baik Untuk membantu menjaga Keselamatan produk.
Bagaimana konsumen memilih sayuran?
Untuk konsumen, label hidroponik saja tidak cukup Untuk menilai seluruh aspek Standar sayuran. Cara budidaya, penggunaan bahan Agrikultur, hingga penanganan Setelahnya panen juga perlu diperhatikan.
Bagaimanapun, konsumen perlu mengetahui proses penanaman sayuran yang mereka konsumsi. Menurut Nova, hal tersebut dapat dilakukan Didalam mengenali bagaimana sayuran dibudidayakan, termasuk bahan-bahan yang digunakan Pada proses penanaman.
“Karena Itu kita harus tahu, apalagi kalau Untuk hidroponik kayak kita bikin nih Hingga Rumah, gitu kan. Kita kan tahu itu produk kita tanam itu mengandung kimia enggak,” ujar Nova.
Hingga Ladang Farm sendiri, proses panen dilakukan berdasarkan pesanan pelanggan. “Sebab fokus Hingga Ladang Farm ini sayuran segar. Karena Itu Untuk permintaan itu kita Mutakhir panen. Karena Itu tidak ada penimbunan sayuran,” jelas Nova.
Hidroponik menawarkan alternatif Untuk memproduksi sayuran Hingga Ditengah keterbatasan lahan perkotaan. Tetapi, apakah sayuran yang ditanam Didalam metode ini lebih sehat tetap perlu dinilai berdasarkan bukti mengenai kandungan gizi, Keselamatan Ketahanan Pangan, serta proses produksi dan penanganannya.
Sayuran hidroponik tidak otomatis lebih sehat hanya Sebab ditanam tanpa tanah atau menggunakan lebih sedikit pestisida. Konsumen tetap perlu memperhatikan asal-usul dan cara produksi sayuran yang dibeli, serta menjadikannya Dibagian Untuk pola makan bergizi seimbang.
Halaman 2 Untuk 2
Simak Video “Video: Guru Hingga Bojonegoro Berlarilah 4 Km Hingga Sekolah Untuk Hemat BBM“
(amf/up)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Sayuran Hidroponik Otomatis Lebih Sehat? Faktanya Tak Sesimpel Itu











