Jakarta –
Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Adji Muhammad Arifin, menjadi sorotan publik Sesudah duduk Ke barisan Di Untuk Kegiatan peresmian kilang Pertamina Ke Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Siapa sosok Sultan Adji Muhammad Arifin?
Situasi itu pertama kali disadari Pemimpin Negara Prabowo Subianto yang heran posisi Sultan tidak sesuai adat. Sultan Arifin tetap Tenteram, berdiri, dan Menyediakan hormat ketika namanya disebut.
Prabowo Malahan sempat berseloroh, “Sultan kok ditaruh Ke Di?” sambil Menunjukkan gestur agar posisi duduk Sultan seharusnya Ke Didepan. Dikutip Di detikKalimantan, Sabtu (17/1/20226), momen itu terjadi Di Kegiatan peresmian kilang Pertamina Ke Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (15/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa itu menjadi perhatian Sebab dinilai tidak menghormati Kearifan Lokal Global setempat. Kerabat Kesultanan Kukar, Raden Cokro Projo, mengatakan tidak mengetahui alasan pasti penempatan Sultan Ke Di. Dia menilai kejadian itu memalukan.
“Bisa Jadi Di depannya kalau kami berharap protokol Di Kaltim bisa Menyediakan advice Di siapapun panitia Di pusat bahwa ini Sultan tidak layak kita tempatkan Ke sini. Toh itu menjadi notice Di Pemimpin Negara, kan memalukan Untuk kita semua kan akhirannya. Artinya mereka Ke kurangnya pemahaman tentang adat dan adab,” ujar Cokro.
Cokro menambahkan bahwa Sultan Arifin tak mempermasalahkannya, tetapi justru Kelompok Kutai yang Berkata keberatan.
“Sultan itu sebenarnya tidak menganggap dirinya, bahwa ini Sultan loh. Dia tetap menjaga kestabilan Kegiatan, rendah hatinya, tetap dijaga. Artinya biar Kegiatan ini berjalan lancar. Dia sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan. Tapi ya Kelompok yang keberatan ya, itulah yang bikin kacau,” kata dia.
Siapa Sultan Arifin?
Sultan Arifin adalah pemimpin adat Di-21 Kesultanan Kutai Kartanegara (Kukar). Dia lahir Ke 9 Februari 1951 Ke Belanda sebagai putra pertama Sultan Adji Muhammad Salehuddin II.
Sesudah ayahnya wafat Ke 2018, dia resmi menggantikan posisi Sultan dan dinobatkan Ke Keraton atau Museum Mulawarman. Dikenal rendah hati, ramah, dan aktif Menyediakan nasihat pembangunan Lokasi, Sultan tetap dihormati dan dilibatkan Untuk urusan pemerintahan modern.
Menurut Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Kaltim, Syarifah Alawiyah, posisi duduk Sultan mengikuti aturan Undang-undang Keprotokolan Nomor 9 Tahun 2010.
“Kami hanya sebagai pendukung saja. Ke Di Kegiatan, tempat duduk sudah diatur protokol Istana, lengkap Di nama, dan kami tidak bisa mengubah apa pun,” ujarnya.
Sebab keterbatasan Bangku, posisi Gubernur Kaltim dan Sultan berada Ke baris kedua, Ke Di Pembantu Pemimpin Negara dan Lembaga Legis Latif.
Merespons hal ini, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menyambangi Sultan Arifin Ke Kedaton Untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan klarifikasi.
“Saya dilahirkan Di keluarga yang Memiliki adat istiadat, tata krama, etika, sopan santun, dan menjunjung tinggi Kearifan Lokal Global timur, datang langsung kepada Sultan Untuk bertabayyun dan bersilaturahmi,” kata Rudy.
PT Kilang Pertamina Balikpapan juga menyampaikan permohonan maaf dan Akansegera melakukan kunjungan resmi Di Kesultanan sebagai bentuk penghormatan.
Persoalan duduk ini menjadi pelajaran penting Untuk penyelenggara Kegiatan agar penghormatan Pada tokoh adat dan Kearifan Lokal Global selalu diperhatikan, terutama Untuk Kegiatan kenegaraan yang melibatkan Pemimpin Negara.
Sultan Arifin tetap Menunjukkan sikap rendah hati dan ramah, menjadi simbol keluhuran Kearifan Lokal Global Kutai yang tetap dihormati hingga kini.
(fem/fem)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Perdebatan Letak Bangku Sultan Kutai Ke Kegiatan Pemimpin Negara











