Menginjakkan kaki Di tanah Lampung tidak Berencana terasa berbeda Di Jawa, Sebelumnya merasakan Makanan khas setempat. Masakan Pekhos Pati yang menjadi penanda perbedaan dua pulau yang dipisahkan Selat Sunda ini.
Begitu mendarat Di Bandara Radin Inten, seorang kawan menyambut kami Di bahasa Jawa. Walaupun lahir dan besar Di Lampung, Tetapi dia keturunan transmigran asal Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para transmigran asal Jawa ini tersentralisir Di beberapa Area Di Lampung, satu diantaranya Di Kabupaten Tanggamus, lokasi tujuan perjalanan kami. Sepanjang perjalanan Di bandara Di lokasi tujuan, Di beberapa kali kami berhenti, tidak sadar kalau ini Di luar Jawa. Sebab obrolan setiap orang yang kami temui, selalu memakai bahasa Jawa.
Seperti ketika kami berhenti Di mini market Area Pringsewu, penjaganya menyambut Di ucapan “Monggo, ngersakne nopo (Silahkan, membutuhkan apa)?”. Begitu juga ketika kami mampir Di sebuah warung Sebagai makan siang, sang penjaga warung juga menanyakan menu pesanan kami Di bahasa Jawa.
“Badhe dahar nopo, kerso pedes menopo mboten (ingin makan apa, mau pedas atau tidak)?” tanya Yuni yang orang tuanya asli Wonogiri ini.
Yuni ternyata bekerja Di warung yang menyajikan Konsumsi khas Lampung. Namanya Pekhos Pati, olahan berbahan ikan yang disajikan Di kuah santan yang tidak begitu kental. Melihat tampilan gambar Di daftar menu, kami penasaran Di rasa Konsumsi yang diklaim khas Lampung ini. Kami pun memesan tiga porsi. Sebab cukup lama menunggu proses memasaknya, saya yang kepo ini berjalan Di Dibagian dapur.
Pantaslah lama, Sebab mereka memasak ikan yang benar-benar segar dan Terbaru diambil Di kolam jika ada memesan menu ini. Sebagai Pekhos Pati, warung yang lokasinya Di Jalan A Yani, Rantau Tinjang, Kecamatan Pugung, Tanggamus ini menggunakan ikan nila segar.
Usai dibersihkan, ikan nila dimarinasi Di bumbu tradisional seperti bawang putih, jinten, ketumbar, kunyit dan garam. Setelahnya Itu dipanggang Di atas bara arang kayu , hingga meninggalkan aroma khas Di daging ikan nila.
Proses memanggang inilah yang ternyata cukup lama. Sebab ikan harus dibolak- balik sampai tingkat kematangannya sempurna. Berulang kali dilumuri bumbu, agar benar-benar meresap Di daging ikan hingga warnanya berubah coklat dan bau gurih memenuhi ruangan. Ikan nila panggang ini, Setelahnya Itu ditaruh Di Piring yang sudah diisi kuah santan. Uniknya, kuah santan ini disajikan matah atau mentah.
Yuni memeras santan Di air matang, Setelahnya Itu dilarutkan bumbu ulekan yang terdiri Di cabai, bawang merah, bawang putih dan kemiri serta perasaan jeruk limau. “Kuah santannya memang matah, gak dimasak lagi, biar terasa lebih segar. Nanti sambalnya juga matah, hanya cabai dan bawang putih, terus dikasih perasan air jeruk limau,” jelasnya. Selain ikan nila berkuah, seporsi Pekhos Pati ini ditemani beragam lalapan dan dua jenis sambal.
Mulai Di terong dan kangkung rebus, kacang panjang, jantung pisang Di sambal jeruk matah atau sambal terasi. Mereka menyebutnya sambal tempoyak. Mirip sambal terasi khas Bali yang dikucuri air jeruk limau, Di aroma khas yang menyegarkan.
“Kalau merasakan masakan Pekhos Pati ini, Terbaru sadar kalau saya Di luar Jawa. Soalnya Konsumsi seperti ini belum pernah saya temukan Di Jawa,” aku Sabato Kaliwuan, pembeli asal Yogyakarta.
Iya memang bener. Menikmati Pekhos Pati membuat tersadar posisi kami menginjakkan kaki Di tanah Lampung. Rasa otentik kuah santan matah dan sambalnya, membuat masakan ini berbeda Di olahan berbahan dasar ikan variasi lainnya. Sebab setiap tanah, Berencana melahirkan Kearifan Lokal Makanan yang menyesuaikan selera citarasa Kelompok yang bermukim Di atasnya.
Makanan tradisional khas Lampung Pesisir ini, menyajikan perpaduan rasa gurih, asam, dan segar. “Bener-bener gurih dan kuah santan matahnya berhasil menciptakan sensasi rasa segar yang berbeda,” imbuh Sabato.
Sebagai membayar tiga porsi Pekhos Pati plus minuman teh hangat, uang Rp 100 ribu ternyata masih ada kembaliannya Rp 4.000. Hampir sama Di harga masakan Di Jawa, kelas warung pinggir jalan raya. Sudah nikmat, murah pula. Tetapi begitu keluar Di warung itu, kembali Di Setelahnya awal, berada Di Lampung serasa tetap Di Jawa.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Pekhos Pati, Masakan Khas Lampung











