Kubu PB XIV Purbaya menolak keras menolak penunjukan KGPA Tedjowulan sebagai Pelaksana Keraton Solo Bersama Menbud Fadli Zon. Mereka punya alasan yang kuat.
Sasana Wilapa pihak Alat Buwono (PB) XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, mengatakan pihaknya telah melayangkan keberatan penunjukan tersebut kepada Kementerian Kebudayaan dan juga ditembuskan kepada Pemimpin Negara RI.
“Kami juga sudah melayangkan surat keberatan kami kepada Kementerian Kebudayaan dan beberapa tembusannya pun Pemimpin Negara RI Sebagai keberatan kami diadakannya Kegiatan tersebut, Sebab kami melihat ketidakadilan proses yang diputuskan Bersama Pembantu Presiden Tim Menteri Kebudayaan ini,” kata dia Pada ditemui Ke Keraton Solo, Minggu (18/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumbay mengatakan alasan keberatan Bersama penunjukan tersebut Sebab tidak ada komunikasi Bersama pihaknya.
“Sebab Sebab apapun keraton ini istilahnya kalau Rumah itu ada tuan rumahnya dan kami sebagai tuan Rumah tidak diberikan atau tidak diberitahu atau tidak Memberi izin Sebagai Kegiatan tersebut. Karena Itu kami benar-benar tidak tahu,” ungkapnya.
Kuasa hukum Alat Buwono XIV Purbaya, Billy Suryowibowo, menambahkan bahwa penolakan itu Sebab Surat Keputusan (SK) tersebut dinilai bertentangan Bersama Syarat perundang-undangan yang lebih tinggi.
“Lalu Bersama penunjukan SK ini siapa yang memilih Di Ibu Gusti Moeng dan Tedjowulan, ya, Karena Itu harus jelas. Kan ini Cagar Kebiasaan Global juga ada undang-undangnya, enggak bisa terus SK Ke atasnya undang-undang ya. Undang-undang Cagar Kebiasaan Global ada Nomor 10 Tahun 2011,” ujar Billy.
Bersama Detail, Billy menyebut pihak kementerian tidak memberi tahu Akansegera Melakukan Kegiatan Ke Keraton Solo. Pihaknya mengaku awalnya tidak mengetahui bakal ada Kegiatan tersebut.
“Lah, Melakukan Kegiatan Ke sini tidak kulonuwun (permisi). Kita tidak diajak Sebagai mengetahui permasalahan ini. Ya. Lalu Kegiatan ini juga terjadi keributan, orang-orang luar membawa organisasi-organisasi. Ini keraton yang sangat dihormati lho. Ya, mereka menginjak-injak seperti itu,” ucap dia.
Kuasa hukum lainnya, Sionit Tolhas Marti, mengatakan surat keberatan sudah dilayangkan Ke Kementerian Kebudayaan. Pihaknya Memberi waktu 90 hari Sebagai menunggu jawaban.
“Makanya kita sudah melayangkan keberatan dan ini juga merupakan bentuk jawaban kita Pada SK itu apabila Untuk 90 hari,” ucapnya.
Apabila tidak Merasakan respons, maka pihaknya Akansegera mengajukan gugatan Ke PTUN.
“Apabila tidak ditanggapi, maka kita anggap, ataupun tidak ada perubahan, maka kita anggap itu melawan hukum, maka kita Akansegera ajukan ini Ke gugatan Pada PTUN,” pungkasnya.
Ribut-ribut Ke Keraton Solo
Kegiatan peresmian Pembantu Presiden Tim Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon yang hendak menyerahkan Surat Keputusan (SK) Penujukan KGPA Tedjowulan sebagai Pelaksana Perlindungan, Pembaruan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Kebiasaan Global Keraton Solo sempat diwarnai ribut-ribut.
Keributan itu berawal Bersama Unjuk Rasa Ketidak Setujuan yang dilakukan GKR Panembagan Timoer Rumbay. Dia Justru sampai naik Ke atas panggung dan berbicara Melewati mic Ke mimbar. Rumbay pun buka suara Yang Terkait Bersama aksinya itu.
“Kenapa saya ketika itu menyela, Sebab sejujurnya kami keluarga besar Alat Buwono XIII dan ini juga ada putra-putri PB XII yang sepuh-sepuh, Ke sini ada Gusti Kanjeng Ratu Alit, ada Gusti Pangeran Harya Panembahan Dipo Kusumo, ada Tante Febri, Dinayu Febri, ini sebetulnya kami ini seperti tidak diorangkan, tidak diundang dan tidak diorangkan,” kata Rumbay Ke Keraton Solo, Minggu (18/1/2026).
|
GKR Panembahan Timoer Rumbay, yang nekat naik Ke atas mimbar Sebagai Ketidak Setujuan penyerahan SK Plt Keraton Solo Bersama Fadli Zon Ke Tedjowulan, Solo, Minggu (18/1/2026). Foto: Tara Wahyu/detikJateng
|
Rumbay mengatakan, pihaknya sebagai tuan Rumah merasa tidak diundang Untuk Kegiatan itu. Ia mengaku pihaknya tidak tahu menahu ada Kegiatan tersebut.
“Sebab apapun keraton ini istilahnya kalau Rumah itu ada tuan rumahnya, dan kami sebagai tuan Rumah tidak tidak diberikan atau tidak diberitahu atau tidak Memberi izin Sebagai Kegiatan tersebut. Karena Itu kami tidak Ke benar-benar tidak tahu tidak tahu,” ujar dia.
Ke kesempatan yang sama, GKR Devi Lelyana meminta Menbud Fadli Zon bersikap bijak Untuk menjembatani konflik Ke Keraton Solo.
“Ke sini ingin saya tambahkan saja, sebetulnya harapan kami Bersama kejadian ini, Bapak Pembantu Presiden Tim Menteri Kebudayaan kita ini bisa bersikap bijak. Kalau misalnya beliau itu berniat Sebagai membantu keraton, itu bisa menjembatani semuanya termasuk Bersama pihak kami,” ucapnya.
Menurut GKR Devi, pihaknya tidak pernah dilibatkan Untuk musyawarah mengenai keraton.
“Seperti yang tadi Gusti Timoer sampaikan bahwa Bersama pihak kami terutama Bersama putra-putrinya Pakubowo XIII ini dan juga Sinuhun XIV yang sudah Merasakan mandat ini tidak pernah dilibatkan Untuk diskusi musyawarah atau apapun mengenai apa-apa yang Akansegera dilakukan Ke Untuk keraton,” kata dia.
“Supaya harapan saya semoga Bersama kejadian ini Bapak Pembantu Presiden Tim Menteri Kebudayaan yang terhormat bijak menyikapi ini dan kami siap Sebagai Sebagai diajak diskusi berdialog sesuai Bersama aturan yang berlaku,” pungkasnya.
———
Artikel ini telah naik Ke detikJateng, bisa dibaca selengkapnya Ke sini dan Ke sini.
Halaman 2 Bersama 2
Simak Video “Video: Memanasnya Konflik Ke Keraton Solo, Kini Gara-gara Kunci Museum“
(wsw/wsw)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kubu PB XIV Purbaya Tolak Tedjowulan Karena Itu Pelaksana Keraton Solo, Kenapa?











