Metode memasak kukus dan rebus diperkirakan masih Akansegera menjadi pilihan populer Hingga tahun 2026, terutama Bagi mereka yang ingin menurunkan atau menjaga berat badan. Gaya ini dinilai sejalan Bersama meningkatnya kesadaran Komunitas Pada pola makan sehat dan dampak Konsumsi tinggi lemak Pada Kesejajaran.
Spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK Di RS Abdi Waluyo, menilai Komunitas kini Lebih teredukasi dan memahami Konsumsi yang digoreng, terutama gorengan yang dimasak Bersama cara deep fried, mengandung kalori jauh lebih tinggi dibandingkan metode memasak lain.
Meski demikian, dr Nathania mengingatkan Prototipe kukus dan rebus sering disalahartikan. Banyak orang mengira cukup mengonsumsi ubi, singkong, atau kentang rebus saja sudah cukup sehat. Padahal, jenis Konsumsi tersebut hanya menyumbang karbohidrat dan belum memenuhi kebutuhan gizi secara seimbang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menekankan, Konsumsi kukus dan rebus Akansegera jauh lebih optimal jika dikombinasikan Bersama sumber protein.
“Karena Itu, misalnya kalau makan ubi ya harus ada telurnya. Telurnya yang direbus. Nah, itu jauh lebih bagus. Karena Itu, bukan sekedar kukus dan rebus. Tapi harus ada protein,” ucap dr Nathania kepada detikcom, Hingga RS Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025).
Di sisi pengendalian berat badan, metode kukus dan rebus dinilai lebih menguntungkan dibandingkan menggoreng. Proses penggorengan dapat Meningkatkan kalori Konsumsi Lantaran penyerapan Migas, terutama Ke Konsumsi yang digoreng Bersama cara dicelupkan penuh Hingga Di Migas panas.
Hal inilah yang membuat Konsumsi gorengan lebih padat kalori meski porsinya terlihat sama.
“Betul. Itu paling bagus (Bagi orang yang ingin menjaga berat badannya) Lantaran kalo digoreng itu kalorinya bisa naik, wah tinggi banget. Bisa naik sampai 40 persen,” lanjutnya.
“Lantaran minyaknya masuk kan Hingga dalamnya. Apalagi kalau gorengannya itu yang nyemplung semua,” lanjutnya.
Senada, spesialis gizi klinik dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK Di RS St Carolus Salemba mengatakan Konsumsi kukus bukan sekadar Gaya sesaat, melainkan alternatif yang relatif mudah dan praktis Bagi orang yang menjalani Langkah fat loss. Selain sederhana, metode ini juga fleksibel Lantaran tetap bisa menggunakan bumbu Agar Konsumsi tidak harus terasa hambar.
Tetapi, efektivitas Konsumsi kukus dan rebus Di menjaga berat badan sangat bergantung Ke jenis Konsumsi dan porsinya. Kukusan yang hanya berisi karbohidrat tanpa protein dan sayur tetap berisiko membuat asupan gizi tidak seimbang. Lantaran itu, komposisi Konsumsi tetap menjadi Kunci utama.
Di satu kali makan, dr Yohannessa mencontohkan kombinasi sederhana seperti ubi atau kentang rebus Di porsi sesuai kebutuhan kalori harian, ditambah telur rebus atau sumber protein lain seperti kacang kedelai atau edamame, serta sayuran kukus. Pola ini dinilai cukup praktis, mudah diterapkan, dan tetap mendukung pengendalian berat badan.
“Nah kalau misalnya seperti itu sih ya cukup baik ya cukup disarankan gitu,” kata dr Yohannessa kepada detikcom, Kamis (18/12/2025).
Meski begitu, ia menekankan pentingnya variasi cara memasak agar pola makan sehat bisa dijalani secara berkelanjutan. Kendati kukus dan rebus merupakan pilihan yang baik, tidak berarti semua Konsumsi harus selalu diolah Bersama cara tersebut.
Mengurangi konsumsi lemak jenuh dan menghindari metode deep fried bisa dilakukan Bersama berbagai alternatif memasak agar pola makan tetap seimbang dan tidak membosankan.
Bersama kombinasi yang tepat dan porsi yang sesuai, Konsumsi kukus dan rebus dinilai masih relevan sebagai Pada Di pola makan sehat Hingga 2026, terutama Bagi mereka yang ingin menjaga atau menurunkan berat badan secara realistis dan berkelanjutan.
“Tapi Di kita menjalankan Langkah pola makan yang sehat itu kan atau apalagi kalau targetnya fat loss ya tentunya Mungkin Saja variasi Di cara mengolah itu penting. Lantaran supaya lebih sustained kan maksudnya lebih kayak habit yang tidak bikin bosan gitu,” lanjutnya.
“Karena Itu nggak harus misalnya pagi siang sore setiap hari kukus, enggak, boleh saja alternatif yang lain. Tapi salah satunya Mengurangi lemak jenuh Bersama cara tidak deep fried gitu cari alternatif yang lain,” lanjutnya lagi.
Halaman 2 Di 3
Simak Video “Video Coba-coba: Nggak Digoreng tapi Nagih!“
Gaya Asupan Konsumsi 2026
7 Konten
Gaya Asupan Konsumsi bermunculan silih berganti. Hingga 2026, Gaya apa lagi yang Akansegera Karena Itu Unjuk para pejuang berat badan? Ini saran pakar soal pilih-pilih Asupan Konsumsi yang sehat dan aman.
Konten Berikutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Gaya Kukusan dan Rebus-rebusan, Masihkah Bertahan Hingga 2026? Ini Kata Praktisi Medis Gizi











