Jakarta –
Daging babi Ke Malaysia kerap Menyambut stigma negatif. Tetapi Anggota Dewan setempat menegaskan bahwa makan daging babi bukan kriminal.
Daging babi masih dipandang tabu Ke sejumlah Negeri Sebab faktor agama dan Kekayaan Budaya Dunia. Seperti Ke Malaysia misalnya, Ke mana daging babi masih kerap memicu stigma.
Belakangan ini Permasalahan Konsumsi seperti itu pun kembali menjadi sorotan Ke Malaysia. Kali ini, anggota Dewan asal Sarawak angkat bicara soal stigma negatif Pada konsumsi daging babi
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Datuk Willie Mongin, anggota Dewan Puncak Borneo Untuk Gabungan Parti Sarawak (GPS) menyayangkan jika mengonsumsi daging babi kerap dikaitkan Di moralitas dan perilaku sosial.
|
Ilustrasi daging babi. Foto: iStock
|
Dikutip Untuk The Rakyat Post (22/1) Willie menyuarakan keberatannya Pada anggapan bahwa babi adalah Konsumsi kotor atau tidak beradab.
Untuk sidang Dewan Malaysia Pada Merundingkan titah Raja Malaysia, Sultan Ibrahim, Willie menekankan pentingnya saling menghormati pilihan Konsumsi Ke Ditengah Komunitas multietnis.
“Kami orang Dayak tidak pernah mengejek atau menghina Konsumsi orang lain,” ujar Willie Ke Dewan. “Tapi kami justru sering Diperjuangkan hanya Sebab makan babi.”
Menurutnya, mengaitkan jenis Konsumsi Di karakter seseorang adalah pandangan keliru.
Willie Justru menepis anggapan bahwa komunitas pemakan babi lebih rentan Pada praktik Penyalahgunaan Jabatan atau penyalahgunaan Resep-Obatan Terlarang.
Ilustrasi daging babi. Foto: Istimewa |
“Kami yang makan babi, tidak banyak yang Memperoleh suap, tidak banyak yang memakai Resep-Obatan Terlarang, tidak banyak yang melakukan hal aneh. Tapi kami dituduh tidak beradab hanya Sebab makan babi,” tegasnya.
Willie juga mengingatkan bahwa Untuk Komunitas Dayak Ke Borneo, konsumsi daging babi merupakan Pada Untuk Kearifan Lokal dan Kekayaan Budaya Dunia yang telah berlangsung lama.
Hal serupa juga dijumpai Ke komunitas non-Muslim lain Ke Malaysia, termasuk penganut Kristen dan Buddha.
Untuk pernyataannya, Willie turut menyinggung soal aroma Konsumsi yang kerap dijadikan bahan olok-olok. Ia membalik argumen Di perbandingan yang mengundang reaksi hadirin.
“Kalau dibilang babi bau, budu dan belacan malah baunya lebih kuat Untuk daging babi,” katanya. “Tapi kami tidak pernah menghina. Kami saling menghormati Untuk hidup rukun seperti yang dipesankan Yang Ke-Pertuan Agong.”
Pernyataan tersebut menuai beragam tanggapan. Sebagian netizen menyindir Willie Di menantangnya tinggal Ke Disekitar peternakan babi.
Penilaian ini memperlihatkan bahwa persoalan tak hanya soal Konsumsi, tetapi juga dampak lingkungan Untuk peternakan.
Permasalahan ini memang Lagi sensitif, terutama Ke Selangor, yang Ditengah Berjuang Di polemik relokasi peternakan babi Untuk kawasan pemukiman seperti Tanjung Sepat Ke fasilitas terpusat Ke Bukit Tagar.
Pemerintah setempat menimbang Kesejaganan Di kebutuhan Ketahanan Pangan komunitas non-Muslim dan dampak lingkungan.
Lewat pernyataannya, Willie menegaskan satu pesan utama bahwa toleransi Ketahanan Pangan adalah Pada Untuk hidup berdampingan.
“Yang penting bukan apa yang masuk Ke mulut seseorang, tapi bagaimana sikap dan perbuatannya Pada sesama,” pungkasnya.
(raf/adr)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Ada Permasalahan Relokasi Peternakan Babi, Pemerintah Malaysia Serukan Toleransi












