Kabar Senang datang Untuk dr Gia Pratama dan istrinya, Syafira Imaniar. Sesudah 8 tahun menanti kehadiran buah hati, Praktisi Medis yang kerap membagikan Belajar Kesejajaran Bersama gaya soft spoken ini Memperkenalkan bahwa sang istri kini Ditengah mengandung anak pertama mereka.
“Teman-teman, terima kasih banyak Sebagai semua doanya Pada ini. Alhamdulillah, Allah telah menjawab doa kita. Istriku, Syafira, hamil,” tulis dr Gia Hingga akun Instagram-nya, dikutip Minggu (1/11/2026).
“Sesudah menanti ratusan purnama, detak jantung janin kini terdengar. Perjalanan kami masih panjang. Mohon doanya agar Fira dan si kecil terus diberi Kesejajaran sampai persalinan,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, dr Gia dan Syafira menjalani Langkah bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF). Langkah ini sudah cukup lazim Hingga Indonesia Sebagai membantu pasangan suami istri Merasakan momongan.
IVF merupakan proses mempertemukan sel telur dan sperma Hingga luar tubuh, yakni Hingga laboratorium. Sesudah terjadi pembuahan dan terbentuk embrio, embrio tersebut Sesudah Itu dipindahkan Hingga Untuk rahim perempuan agar dapat berkembang menjadi janin.
Meski begitu, ada berbagai faktor yang bisa menentukan tingkat Prestasi Untuk Langkah tersebut. Apa saja?
Konsultan Senior IVF, Obsetri, dan Ginekologi Hingga ShardaCare HealthCity, India, Dr Tarang Yadav, menegaskan bahwa tidak ada angka tingkat Prestasi tunggal yang berlaku Sebagai semua pasien.
“Tujuan akhir Untuk Penanganan kesuburan bukan hanya tes yang positif, melainkan lahirnya bayi yang sehat,” tegas Dr Yadav yang dikutip Untuk NDTV.
Dr Yadav mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat Prestasi IVF, yakni:
1. Usia yang Menjadi Faktor Utama
Hingga Ditengah semua variabel klinis, usia wanita tetap menjadi faktor yang paling berpengaruh Untuk Prestasi IVF. Hal ini disebabkan Bersama penurunan alami Di kuantitas atau cadangan ovarium, maupun Standar genetik sel telur seiring bertambahnya waktu.
Hingga bawah 35 tahun: Wanita Untuk kelompok usia ini umumnya mencatatkan tingkat Prestasi tertinggi. Hal ini berkaitan Bersama Standar sel telur yang optimal dan respons yang kuat Pada respons stimulasi ovarium.
Usia 35-40 tahun: Fungsi ovarium mulai menurun, disertai peningkatan bertahap Di kelainan kromosom Di sel telur yang diambil.
Hingga atas usia 40 tahun: Di usia ini, tingkat Prestasi bisa lebih kecil. Embrio yang terbentuk Di tahap ini Memiliki kemungkinan ketidakseimbangan kromosom atau aneuploidi yang lebih tinggi. Hal ini yang dapat menurunkan tingkat implantasi dan Memperbaiki risiko keguguran.
2. Situasi Kesejajaran Medis yang Mendasari
Faktor biologis Untuk infertilitas pasangan juga berpengaruh Di Prestasi IVF. Penilaian medis yang komprehensif Sebelumnya memulai Penanganan bisa membantu Regu Praktisi Medis Untuk merancang stimulasi secara tepat.
Dr Yadav mencatat ada beberapa Situasi yang dapat berdampak langsung Di tingkat Prestasi, yaitu:
Gangguan reproduksi: Situasi seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), endometriosis berat, dan penurunan cadangan ovarium memerlukan strategi stimulasi hormonal yang dihitung secara cermat.
Masalah rahim dan struktural: Kelainan rahim, fibroid, atau riwayat kegagalan implantasi berulang dapat memengaruhi seberapa reseptif (siap Merasakan) lapisan rahim Pada embrio.
Faktor sistemik dan pria: Gangguan tiroid yang tidak tertangani, obesitas klinis, serta faktor infertilitas pria yang berat (seperti jumlah sperma yang rendah atau motilitas yang buruk) memerlukan intervensi khusus, termasuk Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI).
3. Cara Hidup dan Faktor Lingkungan
Walaupun usia biologis dan diagnosis medis menentukan garis awal atau baseline, pilihan Cara Hidup sehari-hari juga Memberi dampak nyata Di Kesejajaran sel telur dan sperma.
“Merokok, obesitas, konsumsi alkohol berlebih, Konsumsi Bergizi yang buruk, kurang tidur, dan Beban kronis dapat berdampak buruk Di Standar sel telur maupun sperma,” tegas Dr Yadav.
Studi Menunjukkan bahwa modifikasi Cara Hidup yang proaktif dapat mendukung Kesejajaran reproduksi secara signifikan. Mulai Untuk menjaga berat badan yang ideal, agar respons hormonal Pada stimulasi ovarium lebih optimal dan mendukung daya terima rahim atau uterine receptivity.
Samping Itu, penting juga menjaga pola makan tinggi antioksidan dan beraktivitas fisik Untuk secara teratur. Hal ini membantu Memangkas peradangan sistemik dan Beban oksidatif Di jaringan reproduksi.
Halaman 2 Untuk 2
(sao/dpy)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Dijalani dr Gia dan Istri Untuk Kehamilan, Pakar Ungkap Rahasia IVF Bisa Sukses











