Jalan Asia Afrika Hingga Kota Bandung bukan sekadar ruas jalan yang menghubungkan berbagai sudut kota. Kawasan ini menjadi saksi bisu peristiwa sejarah.
Jalan ini Dari Sebab Itu tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika Ke 18-24 April 1955, ketika 29 Negeri Asia dan Afrika berkumpul Hingga Gedung Merdeka Untuk membicarakan kemerdekaan, Kedamaian, kedaulatan, dan penolakan Pada kolonialisme.
Hingga kini, jejak peristiwa tersebut masih melekat Ke bangunan-bangunan bersejarah dan suasana kawasan yang menjadi salah satu ikon Kota Bandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deretan bangunan tua bergaya art deco berdiri Hingga sepanjang kawasan tersebut. Lampu-lampu jalan Bersama ornamen besi tempa menjadi ciri khas yang memperkuat nuansa masa lalu.
Hingga Ditengah perkembangan kota yang Lebihterus modern, Jalan Asia Afrika masih mempertahankan sejumlah elemen yang mengingatkan Ke masa ketika Bandung menjadi tempat berlangsungnya salah satu pertemuan penting Untuk sejarah Politik Luar Negeri.
Jauh Sebelumnya dikenal Bersama nama Jalan Asia Afrika, ruas jalan ini merupakan Pada Untuk Groote Postweg atau Jalan Raya Pos. Jalur tersebut membentang Di seribu kilometer Untuk Anyer hingga Panarukan dan dibangun Ke masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Pembangunannya melibatkan kerja paksa yang menyebabkan banyak korban jiwa. Ironisnya, jalan yang Ke masa kolonial berkaitan Bersama mobilisasi dan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda Sesudah Itu berubah menjadi panggung Untuk Negeri-Negeri Asia dan Afrika Untuk menyuarakan kemerdekaan dan menolak kolonialisme. Nama Asia Afrika Sesudah Itu melekat Ke kawasan tersebut Sesudah Konferensi Asia Afrika 1955.
Perubahan nama itu tidak sekadar menjadi penanda geografis, tetapi juga membawa ingatan Pada peristiwa diplomatik yang mempertemukan Negeri-Negeri yang Memperoleh Pengalaman Hidup panjang Berjuang Bersama penjajahan.
Hingga Di bangunan yang paling menonjol adalah Gedung Merdeka Hingga Jalan Asia Afrika Nomor 65. Bangunan bergaya art deco tersebut Ke awalnya dikenal sebagai Societeit Concordia, sebuah tempat perkumpulan sosial dan Wisata Untuk Kelompok Eropa, khususnya Belanda, yang tinggal Hingga Bandung.
Bangunan awal Societeit Concordia Sesudah Itu Merasakan perubahan besar Ke 1926. Perancangannya dilakukan Dari Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker, dua arsitek yang Memperoleh keterkaitan Bersama Technische Hoogeschool te Bandoeng, lembaga Belajar yang Sesudah Itu berkembang menjadi Institut Keahlian Bandung.
Renovasi tersebut menghasilkan bangunan pertemuan Bersama karakter arsitektur yang lebih megah, dilengkapi lantai marmer dan lampu-lampu kristal. Perjalanan Gedung Merdeka tidak berhenti Ke masa kolonial.
Sesudah pendudukan Jepang berakhir dan revolusi kemerdekaan berlangsung, bangunan tersebut turut berada Untuk pusaran berbagai peristiwa Hingga Bandung, termasuk masa Bandung Lautan Api Ke Maret 1946.
Ke 1954, pemerintah Indonesia Memutuskan alih bangunan tersebut. Kepala Negara Soekarno Sesudah Itu mengubah nama Concordia menjadi Gedung Merdeka. Setahun Sesudah perubahan nama itu, gedung tersebut memasuki Putaran paling penting Untuk sejarahnya.
Ke 18-24 April 1955, Gedung Merdeka menjadi lokasi utama Konferensi Asia Afrika. Sebanyak 29 Negeri Untuk Asia dan Afrika hadir Untuk pertemuan tersebut. Para pemimpin seperti Soekarno, Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, dan Gamal Abdel Nasser duduk Untuk satu forum Untuk membicarakan persoalan kolonialisme, Kedamaian dunia, kedaulatan Negeri, dan hubungan antarbangsa.
Konferensi tersebut Sesudah Itu menghasilkan Dasasila Bandung, sepuluh prinsip yang menekankan penghormatan Pada kedaulatan, Ham, penyelesaian perselisihan secara damai, serta penolakan Pada kolonialisme dan diskriminasi rasial.
Gagasan yang lahir Hingga Bandung itu Sesudah Itu Memperoleh pengaruh Pada perkembangan kerja sama Negeri-Negeri yang tidak ingin terikat Ke persaingan blok kekuatan dunia Ke masa Pertempuran Dingin. Kini, kawasan Jalan Asia Afrika menjalani kehidupan yang berbeda.
Jika dahulu kawasan tersebut menjadi tempat berlangsungnya pertemuan para pemimpin Negeri, kini trotoarnya menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi Kelompok.
Ke akhir pekan, warga dan wisatawan datang Untuk menikmati suasana kawasan, berfoto Hingga Didepan bangunan bersejarah, maupun Berkunjung Hingga Museum Konferensi Asia Afrika yang berada Hingga Gedung Merdeka.
Hingga Ditengah lalu lintas dan Karya Kelompok yang terus bergerak, bangunan-bangunan tua Hingga Jalan Asia Afrika tetap berdiri sebagai pengingat bahwa wajah sebuah kota dapat menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar perkembangan ruangnya.
Hingga kawasan inilah sejarah kolonial, perjuangan kemerdekaan, dan Hubungan Luar Negeri internasional bertemu Untuk satu ruang. Jalan Asia Afrika akhirnya bukan hanya nama sebuah jalan, melainkan Pada Untuk ingatan tentang bagaimana Bandung pernah menjadi tempat dunia berbicara mengenai kemerdekaan dan masa Didepan bangsa-bangsa.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Jalan Asia Afrika, Saksi Bisu Sejarah Dunia Hingga Bandung











